Belajar Dihantui Rasa Cemas, Kondisi SDN 2 Margajaya Pamarican Menanti Solusi Cepat Pemkab Ciamis

Kondisi SDN 2 Margajaya di Pamarican, Ciamis, sangat memprihatinkan dengan infrastruktur rusak parah yang mengganggu proses belajar mengajar. Sekolah kekurangan ruang kelas layak dan fasilitas dasar. Pihak sekolah menerapkan sistem shift untuk tetap menjalankan KBM, sambil berharap Pemkab Ciamis cepat mengambil tindakan rehabilitasi.


Belajar Dihantui Rasa Cemas, Kondisi SDN 2 Margajaya Pamarican Menanti Solusi Cepat Pemkab Ciamis

Dunia pendidikan di Kabupaten Ciamis kembali mendapat sorotan tajam. Pasalnya, kondisi SDN 2 Margajaya Pamarican saat ini berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan dan membutuhkan penanganan segera dari pemerintah daerah.

Kerusakan infrastruktur yang cukup parah membuat proses kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak lagi berjalan ideal.

Kenyataan pahit ini harus dihadapi setiap hari oleh para siswa dan tenaga pendidik di sekolah yang berlokasi di Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat tersebut.

Bangunan yang seharusnya menjadi tempat aman untuk menimba ilmu, kini justru memicu kekhawatiran mendalam.

Hal ini pun memicu berbagai keluhan, baik dari kalangan guru maupun para orang tua wali murid yang cemas akan keselamatan anak-anak mereka.

Kepala Sekolah SDN 2 Margajaya, Asep Mulyana, tidak menampik fakta pahit tersebut. Saat dimintai keterangan, ia membenarkan bahwa beberapa ruangan kelas di sekolahnya sudah dalam kondisi sangat tidak layak pakai.

Kerusakan ini berdampak langsung pada terganggunya konsentrasi belajar para siswa di dalam kelas.

“Banyak orang tua murid yang datang dan mengeluhkan kondisi bangunan ini. Para guru di sini pun merasakan kekhawatiran yang sama setiap kali mengajar,” ungkap Asep.

Faktor Penyebab Kerusakan: Tanah Labil dan Bangunan Lapuk

Lebih lanjut, Asep menjelaskan bahwa kerusakan parah pada kondisi SDN 2 Margajaya Pamarican bukan semata-mata karena faktor usia bangunan.

Usia material kayu dan tembok yang sudah lapuk memang menjadi salah satu penyebab utama.

Namun, ada ancaman geologis lain yang jauh lebih berbahaya, yakni kondisi struktur tanah di area sekolah yang sangat labil.

Baca Juga :  Kepala Desa Sukajadi Ciamis Apresiasi Warga Ubah Lahan Terbengkalai Jadi Produktif

Pergerakan tanah yang terus terjadi di kawasan tersebut secara perlahan membuat pondasi bangunan mengalami pergeseran.

Akibatnya, dinding-dinding kelas mulai retak, lantai menjadi bergelombang, dan struktur atap rawan ambruk.

Jika dibiarkan berlarut-larut tanpa ada intervensi teknis dari dinas terkait, bangunan ini berpotensi membahayakan nyawa siapa saja yang berada di dalamnya.

Di sisi lain, pihak sekolah berada dalam posisi yang dilematis. Ketiadaan ruang kelas pengganti atau bangunan sementara memaksa pihak pengelola sekolah untuk mengambil keputusan sulit.

Mereka harus tetap menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar di tengah bayang-bayang ketakutan dan infrastruktur yang kritis.

Strategi Darurat: Belajar Dibagi Menjadi Dua Shift

Untuk menyiasati keterbatasan ruang kelas yang layak pakai dan demi menekan risiko kecelakaan, manajemen sekolah akhirnya menerapkan strategi darurat.

Asep beserta jajaran guru memutuskan untuk membagi jadwal masuk siswa menjadi dua gelombang atau shift, yakni kelompok belajar pagi dan kelompok belajar siang.

Meski dengan berat hati, pihaknya terpaksa harus tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar di tengah kekhawatiran.

“Membagi kelas menjadi shift pagi dan siang adalah satu-satunya solusi paling logis yang bisa kami lakukan saat ini agar anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikannya,” jelas Asep.

Meski demikian, solusi dua shift ini tentu bukanlah jalan keluar yang ideal. Pembagian waktu ini membuat jam efektif belajar menjadi lebih singkat.

Selain itu, tenaga para guru pun menjadi lebih terkuras karena harus mengajar lebih lama dari jam kerja normal.

Fasilitas Dasar yang Jauh dari Kata Layak

Fakta miris tentang kondisi SDN 2 Margajaya Pamarican ternyata tidak berhenti pada masalah ruang kelas yang terancam roboh.

Baca Juga :  Ciamis Siaga! Hadapi Cuaca Ekstrem, Bupati Minta Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan dan Kenali Potensi Bencana

Asep Mulyana turut membeberkan deretan panjang penderitaan lain yang harus ditanggung oleh pihak sekolah selama bertahun-tahun.

Secara mengejutkan, sekolah dasar negeri ini ternyata tidak memiliki sejumlah fasilitas dasar yang diwajibkan oleh standar pendidikan nasional.

“Sampai saat ini, sekolah kami belum punya ruang khusus untuk Kepala Sekolah. Bahkan, fasilitas krusial seperti MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang memadai dan bak penampungan air bersih pun kami tidak punya,” keluh Asep.

Tidak hanya itu, sarana prasarana di dalam kelas pun sangat minim. Banyak meja dan kursi siswa yang kondisinya sudah rusak dan tidak layak untuk digunakan belajar.

Keterbatasan sarana mebeler ini semakin menambah beban psikologis siswa yang harus belajar dalam ketidaknyamanan setiap harinya.

Harapan Besar kepada Pemkab Ciamis

Melihat rentetan permasalahan infrastruktur yang kompleks ini, pihak sekolah dan masyarakat Margajaya kini menggantungkan harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis.

Mereka mendesak Dinas Pendidikan dan instansi terkait untuk segera turun ke lapangan dan melakukan peninjauan langsung.

“Kami sangat berharap Pemkab Ciamis merespons keluhan kami ini dengan langkah nyata. Anak-anak kami butuh ruang kelas yang aman dan fasilitas yang layak untuk merajut masa depan mereka,” pungkas Asep penuh harap.

Pendidikan adalah investasi masa depan daerah. Oleh karena itu, percepatan rehabilitasi fisik untuk SDN 2 Margajaya Pamarican diharapkan bisa masuk ke dalam agenda prioritas pembangunan daerah pada tahun anggaran terdekat, sebelum kondisi alam memperparah kerusakan yang ada.