Bongkar Potensi Ciamis, Program Sacha Inchi dan Kopi Unigal Siap Dongkrak Kesejahteraan Petani

Universitas Galuh (Unigal) Ciamis berfokus pada pengembangan komoditas Sacha Inchi dan kopi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Melalui kebun percontohan dan kolaborasi dengan BUMDes serta kelompok tani, Unigal mendukung petani dengan teknologi pertanian dan edukasi. Program ini dirancang inklusif agar semua lapisan masyarakat dapat berpartisipasi.


Bongkar Potensi Ciamis, Program Sacha Inchi dan Kopi Unigal Siap Dongkrak Kesejahteraan Petani

Universitas Galuh (Unigal) Ciamis kembali membuktikan perannya sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.

Melalui program inovatif yang menyentuh akar rumput, Unigal kini tengah fokus mengembangkan komoditas bernilai ekonomi tinggi, yakni Sacha Inchi dan kopi.

Langkah strategis ini bukan sekadar riset akademik, melainkan wujud nyata pengabdian kampus untuk menggerakkan roda perekonomian di Kabupaten Ciamis.

Pemilihan kedua komoditas ini didasarkan pada riset pasar yang menunjukkan tren positif.

Sacha Inchi, yang dikenal sebagai superfood kaya omega-3, memiliki harga jual yang sangat menggiurkan di pasar global.

Sementara itu, komoditas kopi selalu memiliki permintaan yang stabil dan menjanjikan keuntungan jangka panjang bagi para petani lokal.

Rektor Universitas Galuh, Dr. Dadi, M.Si, mengungkapkan bahwa institusinya memiliki tanggung jawab moral untuk hadir dan memberikan solusi bagi masyarakat.

Saat ditemui awak media, ia menegaskan bahwa pengembangan Sacha Inchi dan Kopi Unigal murni didedikasikan untuk peningkatan taraf hidup masyarakat luas.

“Kita ingin kampus ini tidak hanya menjadi menara gading. Kehadiran Unigal harus memberikan manfaat langsung dan nyata kepada masyarakat sekitar,” ujar Dr. Dadi dengan penuh keyakinan.

Kampus Sebagai Inkubator dan Pusat Percontohan

Dalam implementasinya, pihak universitas menyadari bahwa masyarakat membutuhkan bukti nyata sebelum memulai budidaya.

Oleh karena itu, Unigal menyulap sebagian area kampusnya menjadi lahan showcase atau kebun percontohan.

Di area inilah, benih-benih unggul dikembangkan dengan metode pertanian presisi yang ramah lingkungan.

Baca Juga :  Gerakan Pangan Murah Ciamis Hari Ini Digelar, Cek Diskon Sembako & Bonus Vouchernya!

Namun, Dr. Dadi menekankan bahwa lahan kampus hanyalah titik awal dari program raksasa ini. Pusat pengembangan yang sesungguhnya berada di lahan-lahan milik warga.

Ekosistem kampus difungsikan secara optimal sebagai inkubator edukasi, tempat di mana para petani dapat belajar teknik budidaya modern sebelum menerapkannya di desa masing-masing.

“Di lingkungan kampus, pengembangan komoditas ini memang hanya sebatas untuk showcase atau etalase percontohan. Skala besarnya justru sedang dan akan terus kami kembangkan di tengah masyarakat luas,” jelasnya.

Sinergi Kuat dengan BUMDes dan Kelompok Tani

Untuk memastikan program Sacha Inchi dan Kopi Unigal berjalan masif, rektorat menggunakan pendekatan kolaboratif.

Unigal secara proaktif merangkul berbagai elemen penggerak ekonomi desa. Sasaran utama dari kemitraan ini meliputi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Kelompok Tani, hingga Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Kelompok-kelompok ini dinilai memiliki instrumen dan legalitas yang kuat di tingkat desa. Selain itu, mereka umumnya mengelola lahan garapan yang cukup luas namun belum dimanfaatkan secara optimal.

Melalui intervensi teknologi pertanian dari akademisi Unigal, lahan-lahan tidur tersebut kini mulai disulap menjadi lahan produktif yang mencetak cuan.

“Mereka punya lahan garapan yang potensial. Lahan inilah yang bisa digunakan secara maksimal untuk pengembangan komoditas bernilai tinggi ini,” tutur Dr. Dadi.

Baca Juga :  Derita Korban NAP; Kisah Pilu di Balik Persetubuhan dan Video yang Tersebar Luas

Pemberdayaan Inklusif Tanpa Batasan Lahan

Salah satu keunggulan utama dari program ini adalah sifatnya yang sangat inklusif. Konsep pengembangan Sacha Inchi dan Kopi Unigal dirancang secara fleksibel agar bisa diadopsi oleh semua lapisan masyarakat.

Pola tanam dan manajemen perawatannya secara cermat disesuaikan dengan kemampuan modal serta luas lahan yang dimiliki oleh warga.

Artinya, masyarakat yang hanya memiliki pekarangan sempit tetap memiliki kesempatan yang sama dengan mereka yang menguasai lahan berhektar-hektar.

Tim ahli dari Unigal akan memberikan pendampingan spesifik sesuai dengan skala garapan masing-masing petani.

Pendekatan bottom-up ini memastikan tidak ada warga yang merasa tertinggal dalam program pemberdayaan ini.

Lebih dari itu, orientasi utama dari program ini adalah kemandirian ekonomi. Pihak universitas tidak hanya sekadar memberikan bibit, tetapi juga memberikan edukasi literasi finansial.

Tujuannya adalah agar petani memahami proyeksi keuntungan dari jerih payah mereka.

“Jika masyarakat sudah benar-benar paham bagaimana cara budidaya yang benar dan melihat sendiri keuntungannya, silakan kembangkan secara mandiri. Kami di kampus akan selalu siap mendampingi,” pungkas Dr. Dadi.

Dengan langkah konkret dan terukur ini, Unigal optimis mampu mengubah wajah pertanian di Kabupaten Ciamis.

Perpaduan antara inovasi akademik dan kearifan petani lokal diharapkan mampu menjadikan Ciamis sebagai sentra penghasil Sacha Inchi dan kopi unggulan di Jawa Barat.